Pendidikan Kini Menjadi Beban

Pendidikan Kini Menjadi Beban

Oleh : Administrator

Shita Dharmasari mengungkapkan pada dasarnya, setiap manusia memiliki kecerdasan, kelebihan dan keunikan masing-masing. Pun demikian, individu ini sebenarnya mampu mengaplikasikan kecerdasan ini dalam berbagai hal yang positif dan berdaya guna. Tinggal bagaimana, kita (guru dan orangtua) melihat potensi dan mengarahkannya pada hal yang positif dan sesuai dengan kecerdasannya tersebut.

Namun demikian, fakta yang terjadi di lapangan, dalam sebuah sistem pendidikan, para siswa terkesan tertekan dan terpaksa dalam menjalankan aktivitas formalnya. Sedikit sekali di antaranya, yang menjalankan pendidikan dengan keikhlasan. Pendidikan sewajarnya menjadi aktivitas yang menyenangkan, tapi sebaliknya kini menjadi beban.

“Pada dasarnya semua sekolah itu baik, sebab seluruhnya memberikan pendidikan dan bekal pada generasi bangsa. Pun demikian, pendidikan menjadi sangat penting perannya bagi kemajuan suatu bangsa.

Namun demikian, sejauh ini saya memandang siswa terkesan memiliki sebuah beban dalam menjalani pendidikan. Bila kesuksesan pendidikan, hanya dipandang dari segi nilai akademik. Hingga akhirnya tahu apa lebih dominan dari bisa apa seperti kompetensi yang seharusnya ,” ungkapnya.

Dia berpendapat, pendidikan siswa sebaiknya lebih aktif dan berpusat pada siswa daripada hanya sekedar mencatat atau menghapal. Sebab, pola ini mampu memacu siswa untuk lebih memahami pelajaran yang diterima. Sedangkan, untuk teori dapat diarahkan dengan literasi melalui media buku atau referensi bacaan lainnya.

“Tidak kalah penting, menghadapkan siswa pada persoalan melalui studi kasus tertentu, untuk kemudian di diskusikan secara bersama – sama. Sehingga, siswa tidak hanya belajar secara teori saja, namun lebih pada aplikasi lapangan, perumusan masalah, serta dapat mengambil kesimpulan dari persoalan yang di dapatnya. Teknik tersebut lebih merangsang siswa untuk enjoy, dan memberi pemahaman dan daya ingat yang lebih daripada hanya sekedar mengahapal,” ungkapnya.

*) Dimuat di Tribun Lampung - Sabtu, 8 Oktober 2011